Penyakit Merasa Diri Hebat


Oleh: Aswandi

DR. SCHINDLER memperlihatkan bahwa “tiga dari empat (75%) ranjang di rumah sakit sekarang ini diisi oleh orang karena mengidap penyakit yang disebabkan oleh emosi (Emotionally Induced Illness), yakni penyakit yang disebabkan ketidakstabilan emosi, seperti penyakit merasa diri hebat atau penting”, dikutip dari David Schwart (1996) dalam bukunya berjudul; “The Magic of Thinking Big”.

Hasrat merasa diri hebat, penting atau besar adalah sifat dasar manusia dan menjadi pembeda nyata antara manusia dan binatang, demikian kata Freud dan Dewey. Namun sayangnya banyak orang mengalami penderitaan merasa diri hebat dan anehnya berusaha keras mengorbankan segala-galanya hanya untuk disebut diri hebat atau penting yang kemudian tersungkur ke jurang yang dalam dan menjadi gila dengan 1001 macam jenisnya, diantara mereka terdapat negarawan, politisi, usahawan, akademisi dan ilmuan, olahragawan, artis, selebritis dan banyak profesi lainnya.

Setelah dilakukan pengujian “post mortem” ditemukan ternyata manusia menjadi gila tidak berhubungan secara organis dengan sel-sel otaknya sebagaimana diyakini ahli neurologis selama ini. Pertanyaan; mengapa manusia menjadi gila? Beberapa bukti menunjukkan bahwa manusia menjadi gila dalam usahanya mendapatkan perasaan Merasa Diri Hebat ketika mereka merasa diabaikan dalam dunia nyata, demikian Dale Carnegie dalam bukunya berjudul; How to Win Friends and Influence People.

Alice Miller (2000) salah seorang psikiater kenamaan dalam bukunya berjudul; The Drama of The Gifted Child menyatakan bahwa terjadi pada anak yang berprestasi dan dikagumi menyimpan perasaan hampa dan terasing, depresi dan merasa hidupnya tak berarti setelah Obat Kehebatan mereka hilang, yakni tidak berada di puncak lagi atau tidak lagi menjadi “Maha Bintang” yang sekian lama disanjung dan dipuji menjadi kebutuhan pokok hidupnya.

Hal yang sama dialami oleh Astronot Apollo atau orang pertama yang sampai di bulan dan beberapa atlet olimpiade setelah menjadi pusat perhatian dunia dan kembali dalam kehidupan sehari-hari dengan sangat mudah jatuh sakit dan menderita penyakit mental yang lebih dikenal Post Olympic Depression, demikian Robin Sharma (2006) dalam bukunya berjudul; ”Who Will Cry When You Die”.

Penyakit “Merasa Diri Hebat” sepertinya terdapat pada masyarakat kita dalam berbagai bentuk dan tingkatannya. Ada yang sedang mengalami masa inkubasi dan tidak sedikit yang berada dalam kondisi akut. Banyak orang datang menghadap penulis seraya mengatakan bahwa diri mereka sudah tidak suka lagi mendengarkan dialog, baik langsung maupun dialog di televisi dan di media massa lainnya, karena yang disaksikan hanya mereka menghujat orang lain dan menunjukkan kepada pemirsa dan pendengarnya bahwa dia orang hebat atau penting. Benarkah mereka orang hebat, bisa jadi mereka adalah orang-orang  bodoh/tolol yang senang menceritakan sedikit dari apa yang diketahui.

Hal senada, penulis dengar dari teman bahwa dia baru saja bertemu seorang pemimpin yang kurang tawadhu’ atau suka menyobongkan diri, mengatakan bahwa semuanya beres atau tuntas jika diserahkan pada dirinya. Kehadiran satu orang saja, apalagi lebih dalam sebuah organisasi yang sedang mengidap penyakit merasa diri hebat akan sangat merugikan organisasi, karena mereka yang berpenyakit tersebut selalu melihat kebesaran atau kesuksesan organisasi sebagaimana yang ada dalam pikirannya, bukan yang ada dalam pikiran anggota organisasi yang lainnya, dan ia sangat sulit menerima pemikiran orang lain. Mereka itu, tanpa sadar adalah menderita penyakit, yakni penyakit merasa diri hebat atau penting.

Fakta lain, di setiap acara, bahkan ketika hendak melaksanakan ibadah selalu ada manusia yang ingin menempati kursi atau tempat terdepan meskipun ia datang terlambat, seakan-akan kawasan VIP, mihrab dan altar milik pribadinya. Di masa lalu, tidak tahulah sekarang, apakah berpose/berphoto di samping pejabat atau orang penting masih menjadi dambaan seseorang?, kemudian photo diri tersebut dipigura lebar lalu disimpan di estalase ruang tamu atau ruang kerja. Ketika menyaksikan photo semacam itu, muncul dalam fikiran penulis mengapa banyak orang tidak percaya diri, Ali ra (1993) dalam “Nahjul Balaghah” menasehati; “kebanggaan terhadap diri sendiri meskipun hanya sebesar zarah (biji sawi) adalah musuh kebenaran dan penyakit paling parah bagi akal seseorang, ia merusak diri sendiri sebelum merusak orang lain. Oleh karena itu suatu perbuatan buruk yang kau sesali lebih utama di sisi Allah SWT dari pada perbuatan baik yang membuatmu bangga akan dirimu”.

Rasulullah saw dan para sahabat mengajarkan kepada kita agar tawadhu’ atau suka merendahkan diri, bukan merasa diri hebat/penting, seperti Abu Ubaidah Ibnu Jarrah ra satu diantara sahabat Rasulullaah saw yang sukses sebagai pimpinan perang selalu berwajah ceria, terpuji akhlaknya, tidak seorang muslimpun merasa dirugikan olehnya, dan dikenal seorang pemalu.

Pada saat kepentingan jamaah kaum muslimin menuntut persatuan, dan kekompakan. Beliau berkata, “Kalian jangan berselisih, Apabila engkau membangkang kepadaku, biarlah aku yang patuh kepadamu”. Beliau sangat mengerti tentang hak menjadi seorang pemimpin sebagai gambaran kerendahan budinya, misalnya, setelah Rasulullah saw. Wafat, banyak orang yang datang menemuinya, termasuk Umar ibnul Khattab ra hendak membaiat Abu Ubaidah menjadi khalifah pengganti Rasullah saw, tetapi ia menolak seraya menjawab, “Apakah kalian datang kepadaku sedangkan di tengah-tengah umat ini masih ada orang yang ketiga, yang lebih layak menjadi khalifah, maksudnya Abu Bakar ash-Shiddiq”.

Sikap tawadhu’ pada diri Abu Ubaidah jelas terlihat, misalnya di suatu hari beliau  menjadi iman shalat. Ketika dia pergi meninggalkan tempat itu, dia berkata, “Setan telah menggodaku hingga aku merasa  bahwa aku lebih baik dari pada orang lain. Oleh karena itu, aku tidak mau menjadi imam lagi selamanya”. Diceritakan, ia memilih pindah rumah meninggalkan rumah dimana banyak orang sering memujinya. Demi menjaga dari merasa diri hebat, penting dan sejenisnya, ia tinggalkan kampung halamannya, pindah ke tempat lain yang lebih aman dari pujian dan sanjungan. Padahal pujian sangat layak diberikan kepada seorang panglima perang. ahli agama dan berkepribadian tawadhu’ kepada semua orang.

Bercermin kepada kepribadian seorang sahabat Rasulullah saw Abu Ubaidah cukuplah menjadi pelajaran kepada kita, betapa tinggi dan mulianya akhlak mereka, dan rendahnya kualitas akhlak yang kita miliki, dan menjadi bukti rendahnya pula derajat keimanan kita kepada Allah Swt. Mengakhiri opini ini, penulis kemukakan beberapa hal yang menjadi sumber penyebab penyakit merasa diri hebat dan segera kita hindari dalam kehidupan ini, yakni;

  1. menganggap dirinya memiliki hak atas Allah karena tawadhu’nya;
  2. melihat diri sendiri lebih mulia dan lebih tinggi dari orang lain;
  3. menganggap dirinya telah tawadhu’ atau tidak sombong; dan
  4. ujub atau merasa takjub dan bangga pada dirinya sendiri.

(Penulis, Dosen FKIP Untan)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s