Lima Salah Kaprah Idul Fitri


Menjelang Idul Fitri 1432 H ini, saya ingin ikut meramaikan acara akbar dalam berbagi pikiran yang kita lakukan sudah lama dan dengan sangat keren ini. Menjelang Idul Fitri pula, saya dengan ini membagikan isi pikiran saya tentang beberapa hal yang salah kaprah di masyarakat terkait hari raya dan beberapa penjelasan yang berhasil saya kumpulkan dari berbagai sumber.

Tidak bisa dipungkiri, masih banyak salah kaprah, dalam konteks bahasa dan nonbahasa kita sehari-hari, begitu pula dalam konteks hari raya. Idul Fitri sebagai hari raya terbesar umat Islam di Indonesia juga hingga saat ini masih kita jumpai dalam hal-hal yang salah kaprah dan perlu diperbaiki, baik terkait penggunaan istilah, sudut pandang, pemahaman, dan bahkan keyakinan.

Berikut lima hal yang sering disalah-kaprahkan oleh masyarakat terkait Idul Fitri.

    1. Kalimat “Minal Aidin Wal Faidzin“. Kalimat khas Idul Fitri ini seringkali diikutkan setelah ucapan selamat lebaran yang bisa diramu ke dalam diksi-diksi yang lebih menarik. Namun, masih banyak di antara kita yang mengartikannya sebagai arti dari kata “Mohon Maaf Lahir dan Batin” yang seringkali pula menjadi kalimat pelanjutnya. Padahal, ulama dan ahli bahasa Arab sudah menjelaskan berkali-kali melalui media bahwa kalimat Minal Aidin Wal Faidzin berarti “Termasuk dari orang-orang yang kembali (dari perjuangan ramadhan) sebagai orang yang menang”.* Ulama menjelaskan, lebih tepat jika mengungkapkan Taqobbalallahu Minna wa Minkum sebagai wujud permohonan maaf dan rasa terima kasih. Kalimat ini pun diungkapkan tidak hanya pada momen lebaran, tapi setiap waktu.
    2. Silaturahim bukan SilaturahmiPara ulama menyarankan kepada kita membiasa-gunakan kata “Silaturahim” yang dimaksudkan menyambung rasa kasih sayang dan saling pengertian, termasuk dalam momen Idul Fitri. Sedangkan, kata “Silaturahmi” sejatinya terdiri dari dua penggal kata, “silah” yang artinya menyambungkan dan “rahmi” yang artinya rasa nyeri yang dirasakan ibu saat melahirkan. Maka jelas saja, silaturahmi berarti menyambungkan rasa nyeri yang dirasakan ibu saat melahirkan. Kurang sesuai konteks dan logika.*
    3. Perbedaan hari raya dianggap saling seberang antara pemerintah dan ormas Muhammadiyah. Hal satu ini juga seringkali disalahkaprahkan. Sebagian masyarakat, terutama di kampung-kampung, masyarakat masih terkadang berkomentar bahwa keterlambatan pelaksanaan hari raya sebagaimana sering ditetapkan pemerintah melawan pendapat ormas Muhammadiyah yang memutuskan hari idul Fitri jatuh pada hari sebelumnya, merupakan bentuk seberang pemahaman. Padahal, dalam sidang isbat (penentuan jatuh-tepatnya hari Idul Fitri) sendiri dihadiri oleh semua tokoh dan ormas Islam yang berkepentingan dan berkompeten, termasuk semua ormas Islam terbesar. Jadi, semestinya penetapan hari raya berbeda, terjadi dalam dewan isbat. Kesepahaman dan kesepakatan untuk saling mengerti dan menerima pemahaman masing-masing. Ini pun tentunya didukung perhitungan-perhitungan ilmiah berdasarkan tuntunan Agama. Tidak main-main, bukan?
    4. Salat ied fitri dilaksanakan terlalu pagi. Di Indonesia shalat ied dilakukan pada pagi hari saat matahari terbit. Sebagian masyarakat kita mungkin menyangka bahwa shalat ied harus dilaksanan sepagi mungkin, padahal sejatinya tidak demikian. Jika shalat ied fitri dilaksanakan terlalu pagi, anggaplah pukul 6.30, akan ada banyak sekali jamaah yang terlambat bahkan tidak sempat mengikuti proses jamaah secara penuh, karena mereka datang dari tempat yang jauh. Pelaksanaan idul fitri bisa agak diakhirkan sesuai petunjuk dan anjuran syariat dengan hikmahnya yang agung. Menurut mayoritas ulama-ulama Hanafiyah, Malikiyah dan Hambali, waktu shalat ‘ied dimulai dari matahari setinggi tombak sampai waktu zawal (matahari bergeser ke barat). Jika diklasifikasikan khusus Indonesia dan seluruh wilayah zona waktu yang serupa, waktu terbaik salat ied dimulai adalah antara pukul 07.00 hingga pukul 8.30.**
    5. Shalat ied di masjid atau di lapangan. Dua hal ini masih sering disalah-kaprahkan dengan menentukan satu dan yang lainnya lebih utama. Berdasarkan beberapa hadits yang ditegaskan melalui pendapat-pendapat ulama, shalat ied lebih utama dilaksanakan di masjid, jika masjid mampu menampung seluruh jamaah yang jumlahnya jauh melebihi jamaah shalat biasa. Baru jika masjid dianggap tidak muat dan mengandung risiko, maka shalat ied di lapangan akan jauh lebih afdol karena menjamin kekhusukan ribuan jamaah. Untuk masjid-masjid berukuran besar, jamaah dianjurkan melaksanakan shalat ied di dalamnya. Namun jika di suatu kampung tidak ada masjid luas yang bisa menampung jamaah, maka akan lebih utama shalat ied dilaksanakan di lapangan. Hal ini juga guna mengantisipasi risiko-risiko potensial seperti penyediaan sarana tanggap darurat, pengaturan tata suara, pengaturan shaf, dan keterlihatan imam dan khatib oleh jamaah.

Demikian lima hal yang sering salahkaprah di masyarakat kita. Saya kumpulkan dari berbagai sumber, dan mudah-mudahan Ramadan dan Idul Fitri berikutnya bisa lebih baik dari sebelumnya.

Sumber: http://sosbud.kompasiana.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s