Perbedaan Metode Penyebab Bedanya Idul Fitri


Perbedaan penetapan 1 Syawal terjadi karena adanya penggunaan perhitungan yang menyimpang dari kelaziman astronomi modern. Hal itu dikatakan Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Kedirgantaraan  Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Prof Dr Thomas Djamaluddin.

“Penyimpangan dari kelaziman astronomi modern ini dengan masih digunakannya metode lama dalam hisab dan rukyat. Metode lama ini misalnya, hisab urfi hanya dengan periode tetap, dengan pasang air laut serta metode wujudul hilal,” kata Thomas di Jakarta, Senin (29/8).

Pakar astronomi ini menyayangkan ormas Islam yang masih kukuh menggunakan hisab wujudul hilal. “Kalau kriteria menggunakan hisab wujudul hilal tidak diubah, dapat dipastikan awal Ramadan 1433 (2012), 1434 (2013), dan 1435 (2014) juga akan berbeda dan masyarakat dibuat bingung tetapi hanya disodori solusi sementara, ‘mari kita saling menghormati,” katanya.

Menurut dia, perbedaan penetapan Idul Fitri itu akan terus berulang yakni ketika bulan pada posisi yang sangat rendah, tetapi sudah positif di atas ufuk. Contohnya pada kasus penentuan Idul Fitri tahun ini. Yakni saat Maghrib 29 Ramadan/29 Agustus, bulan sudah positif tetapi tingginya di seluruh Indonesia hanya sekitar 2 derajat atau kurang.

Dengan posisi bulan seperti itu, Muhammadiyah sejak awal sudah mengumumkan Idul Fitri jatuh pada 30 Agustus 2011 karena bulan sudah wujud di atas ufuk saat Maghrib 29 Agustus 2011, padahal saat itu bulan masih terlalu rendah untuk bisa memunculkan hilal yang teramati sesuai dalil syar’i.

“Perlu diketahui, kemampuan hisab sudah dimiliki semua ormas Islam secara merata, termasuk NU dan Persis, sehingga data hisab seperti itu sudah diketahui umum. Dengan perangkat astronomi yang mudah didapat, siapa pun kini bisa menghisabnya, tidak ada yang istimewa,” katanya.

Sedangkan metode Imkan Rukyat adalah tren baru astronomi yang berupaya menyelaraskan dengan dalil syar’i, ujar alumni ITB yang mengaku sering mengkritik metode hisab rukyat berbagai ormas Islam itu.

“Muhammdiyah tampaknya terlalu ketat menjauhi rukyat terjebak pada kejumudan atau kebekuan pemikiran dalam ilmu falak atau astronomi terkait penentuan sistem kelendernya,” katanya.

Apa lagi, ujarnya, perhitungan imkan rukyat kini sangat mudah dilakukan, terbantu dengan perkembangan perangkat lunak astronomi, bahkan informasi imkanrur rukyat atau visibilitas hilal juga sangat mudah diakses dalam jaringan (secara online) di internet. (Ant/OL-04)

Sumber: Media Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s